(Bukan fakta, hanya fiksi: itu pun kalau kau masih menganggap keduanya berbeda..)
Dahulu, atau mungkin juga di masa depan, terdapat tiga sekawan pencari
kebenaran: Mr. T-test, Mr. Chi dan Mr. Fisher. Mereka adalah
filsuf-filsuf yang tak pernah menyerah mencari kebenaran. Mereka juga
mengajarkan semua orang tentang pentingnya ketekunan, ketelitian dan
kerja keras..
Hampir semua orang mengagumi mereka yang tak kenal lelah dalam
menelusuri kebenaran. Meski tak semua pengagumnya mampu memahami cara
kerja mereka yang begitu rumit: kenapa dalam menemukan kebenaran harus
melalui lika-liku “berpangkat ” dan “berakar”. Untuk memahami itu, butuh
berpikir keras. Yah, itu memang yang selalu mereka ajarkan pada setiap
orang. Karena itulah mereka diangkat menjadi filsuf-filsuf terkemuka
pada masa itu.
Suatu saat, mereka terlibat dalam sebuah percakapan. Mr. T-test
menyatakan bahwa ia telah menemukan kebenaran baru. Kebenaran yang akan
membuat semua orang kagum. Ia berkata, “Metode yang kubuat tak
terbantahkan, karena aku telah meneliti unsur-unsur terkecil yang bahkan
tak terlihat oleh kebanyakan orang.”
Tak mau kalah, Mr. Chi berargumen, “Kau memang hebat dalam memecahkan
kebenaran statistik parametris, tapi bukan berarti kau bisa melakukannya
pada statistik nonparametris. Akulah yang menemukan kebenaran pada
statistik nonparametris. Kau tak akan mampu membantah metodeku, karena
itu hanya keahlianku.”
<span class="hidenpost">
Saat mereka beradu argumentasi, Mr. Fisher muncul menengahi, “Kalian
juga tak boleh mengabaikan metodeku. Meski lebih sederhana, metodeku
punya kelebihan: lebih mudah dan lebih disukai banyak orang. Kita memang
punya keahlian masing-masing. Tak ada gunanya berdebat. Sebenarnya Kita
bisa saling melengkapi.” Demikian, mereka lalu sepakat untuk selalu
bekerja sama.
Waktu terus berlalu, dan tiba saatnya mereka menyadari ada yang kurang
dalam penemuan mereka. Mereka yakin telah menemukan hasil akhir, tapi
mereka tak mendapatkan kesimpulan apa-apa dari hasil tersebut. Ternyata
mereka belum mendapatkan kebenaran akhir. Tanpa kebenaran akhir,
penemuan mereka sia-sia. Dan hal itu tak boleh terjadi. Mereka harus
berusaha menemukan kebenaran akhir. Namun segala usaha yang mereka
lakukan tetap tak menghasilkan apa-apa.
Sampai akhirnya, di tengah kebingungan yang dialami ketiga filsuf
tersebut, seorang bijak datang menemui mereka. “Akulah satu-satunya
orang yang dapat menjawab persoalan kalian,” ujarnya lantang. Ketiga
filsuf itu heran: benarkah orang tersebut dapat membantu mereka
menemukan kebenaran akhir; apakah ia juga seorang filsuf yang bekerja
keras mencari kebenaran. Mungkin sebaiknya mereka mengenal identitasnya
sebelum memercayainya.
“Siapa Anda, wahai orang asing?” tanya Mr. T-test.
“Aku adalah seorang rasul yang diutus tuhan untuk menyampaikan
kebenaran. Kebenaran akhir yang tak mungkin kalian peroleh tanpa
bantuanku. Namaku adalah Tabel,” jawabnya dengan tenang.
Mereka masih belum percaya. Mereka butuh bukti. Karena penasaran, Mr. Chi bertanya, “Bagaimana Anda membuktikannya?”
“Aku membawa sebuah kitab tuhan yang tak akan kalian ragukan. Kalian
hanya perlu mencocokkan penemuan kalian dengan nilai-nilai Tuhan yang
terdapat dalam kitab itu. Lalu kalian akan menemukan kebenaran akhir,”
jawab Tuan Tabel. “Nilai-nilai itu adalah standar tuhan dalam menentukan
kebenaran akhir,” lanjutnya.
Kemudian, Tuan Tabel memberikan kitab yang berisi nilai-nilai tuhan
tersebut. “Kalian tak perlu bertanya bagaimana nilai-nilai itu tercipta.
Kalian juga tak boleh menyangkal standar tersebut. Karena itu dari
tuhan.”
“Bagaimana cara kerjanya?” tanya Mr. Fisher.
“Mudah saja. Setelah kalian mencocokkan penemuan kalian dengan standar
tuhan: lebih kecil (), itu menentukan ditolak atau diterima. Itulah
kebenaran akhir,” jawabnya dengan tegas.
Setelah mencocokkan penemuan mereka dengan nilai-nilai tuhan, mereka
benar-benar menemukan kebenaran akhir yang mereka cari. Mereka baru
percaya bahwa Tuan Tabel adalah utusan tuhan yang membawa kebenaran.
“Kalian tahu apa itu kebenaran?” tantang Tuan Tabel. Ketiga filsuf itu
tertegun, tak dapat menjawab. Lalu Tuan Tabel berfatwa, “Kebenaran itu
adalah aturan tuhan yang melampaui pikiran manusia, tak perlu
dipertanyakan, dan tak boleh disangkal. Karenanya, yang terakhir harus
kalian lakukan adalah memasrahkan diri (tawakkal) pada aturan tersebut.”
Akhirnya, ketiga filsuf itu menyadari bahwa ketelitian, ketekunan dan
kerja keras tak cukup untuk mencapai kebenaran akhir. Mereka harus
bertawakkal pada nilai-nilai yang tertulis dalam kitab tuhan.
Setelah kejadian itu, Tuan Tabel pergi melanjutkan petualangannya,
mendatangi filsuf-filsuf yang juga membutuhkan bantuannya, seperti Mr.
Anova dan lainnya.
Demikian, kisah sebuah agama yang lahir di lingkungan akademik. Seperti
agama-agama lainnya, ia mengajarkan ketekunan, ketelitian, kerja keras,
dan terakhir tawakkal.
just for fun gan, salam cuao - cuap dan hidup STATISTIKA!
</span>